Minggu, 25 Oktober 2015

Resensi Novel Bulan Nararya

Judul : Bulan Nararya
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Penyunting Bahasa : Mastris Radyamas
Tahun Terbit : 2014 (cetakan pertama)
Tebal : 256 halaman
ISBN : 978-602-1614-33-4
Harga Buku : Rp 46.000,00
Ukuran : 13 cm x 19 cm

Nararya, atau yang kerap dipanggil Rara. Adalah seorang terapis di sebuah klinik mental health center yang berlokasi di Surabaya. Nararya ingin sekali agar metode penyembuhan klien (pasien) menggunakan transpersonal. Suatu aliran metode baru yang lebih berbau budaya dan filosofi, mencoba mendekati setiap penderita dengan apa yang mereka butuhkan. (hal 231)

Menurutnya, bergantung dengan farmakologi, dengan cara memberikan klien obat antipsikotik bukanlah satu-satunya obat bagi penderita skizophrenia. (hal 7)
Nararya mempunyai teman klien yang spesial baginya. Sania, Pak Bulan dan Yudhis. Ketiganya selalu dikunjungi Nararya apabila masalah sedang mendatanginya. Dan Nararya mendapatkan kebahagiaan dari ketiga orang yang menjadi kliennya tersebut. (hal 17)
Berbagai masalah mulai menghadapi Nararya. Mulai dari hubungannya dengan kepala klinik, Bu Sausan yang menolak ide penerapan transpersonal yang diusulkan Nararya, meminta Nararya untuk pindah ke bagian lain dan tidak lagi di bagian terapis. Lalu halusinasinya yang melihat genangan darah dan cabikan bunga mawar di depan ruang kerjanya yang ternyata merupakan realitas. Ditambah masalah perasaan dengan Angga, mantan suaminya yang ternyata dekat dengan sahabatnya sesama terapis, Moza. Sampai akhirnya Angga menikahi Moza dan Moza hamil. Sampai masalah antara klien dan orang-orang terdekatnya, seperti Yudhis dengan Diana, istrinya, serta keluarganya. Juga datangnya Pak Robin yang mau mengambil anaknya, Sania. Juga Sania yang mencoba untuk bunuh diri. Semuanya seakan menguras tenaga dan pikiran Nararya.
Hadirnya Papa dan Mama Nararya, juga Farida, teman sesama terapis yang awal perkenalannya di Palu saat Nararya dan Bu Sausan mengadakan kunjungan ke seuah Panti Wreda, menjadi spirit tersendiri baginya untuk menyelesaikan berbagai tugas dan masalah yang berat. Hingga akhirnya, satu persatu masalah sudah diselesaikan dan ditemukan jalan keluarnya dengan dibantu warga penghuni mental health center yang berlokasi di pinggiran kota Surabaya ini.

Sinta Yudisia, penulis novel Bulan Nararya ini, bercerita dengan detail tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengidap skizophrenia. Tak salah bila latar belakang pendidikan penulis adalah Psikologi. Dengan seluk beluk permasalahan di health mental center sampai hal-hal yang berkaitan dengan contoh pasien pengidap skizophrenia diungkapkan di sini. Tapi sayang, penjelasan kosa kata asing berada di halaman paling belakang novel ini. Akan lebih baiknya, penjelasan kata asing berada di catatan kaki, sehingga memudahkan pembaca tanpa harus membalik-balik halaman paling belakang.
Pembaca akan diajak bagaimana menyelami kehidupan di dalam health mental center, bersama orang-orang yang menderita skizophrenia. Hubungan antara pasien, hubungan antar terapis atau karyawan, sampai hubungan terapis dengan klien dan orang-orang sekitarnya diceritakan disini.
Bukan hanya hubungan tapi juga permasalahan yang terjadi di dalamnya. Bagaimana mencari solusi penyelesaian, sampai cara pendekatan dengan pengidap skizophrenia diuraikan dengan baik melalui alur ceritanya yang mengalir.
Bila dilihat secara fisik, sampul depan novel yang mempunyai 256 halaman ini, bergambarkan seorang anak yang sedang memandangi bulan. Bulan yang berekspresi sedih. Awalnya saya tidak menyangka isi yang terkandung di novel jauh dari kesan pertama saya melihat gambar sampul depannya. Kesan pertama saya menebak novel ini berhubungan dengan dunia anak dan dongeng, tapi tenyata justru berbau nonfiksi.
Judul bab di novel ini hanya di tampilkan di daftar isi, sementara di awal perbab hanya dituliskan sepenggal alur yang menjadi tema setiap bab, itupun hanya beberapa bab saja. Awalnya membuat saya sedikit bingung, karena harus membuka halaman daftar isi lagi ketika ingin mengetahui judul perbab novel ini.
Novel ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Pembaca akan menangkap maksud penulis yang ingin menyampaikan pesan-pesannya. Salah satunya, bahwa dalam penyembuhan pasien yang mengidap skizophrenia, tidak hanya tugas terapis. Tapi semua unsur harus mensuport dan membantu jalannya penyembuhan, mulai dari yang terdekat, keluarga, orang tua serta lingkungan dan masyarakat. Karena sedikit dekali orang yang memberi perhatian kepada penderita skizophrenia ini. Lingkungan dan masyarakat biasanya menjauhi, bahkan tidak suka dengan penderita gangguan mental ini. Padahal itu tidak bisa dibenarkan.
Pesan lain yang terkandung misalnya, melalui perkataan Farida kepada Nararya, penulis ingin menyampaikan, bahwa dalam menghadapi permasalahan yang berujung kesedihan, kita seharusnya jangan menghindar. Justru dengan menghadapinya, merasakan sakitnya, lambat laun kita akan mempunyai imunitas dalam diri kita ketika menghadapi masalah. Sehingga kita dapat belajar dan menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih baik di kemudian hari.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel Indiva 2015

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Berbagi Pengalaman dan Ilmu
Maira Gall