Minggu, 19 Juli 2015

2 Syawwal 1436 Hijriyah

Hayo, yang pagi tadi terlambat bangun dan tidak sempat berjamaah sholat shubuh di masjid siapa hayo? Cung!

Ya, banyak dari kita begadang semalaman untuk “merayakan” takbiran sampai larut malam, bahkan dari ba’da isya sampai pagi-pagi non stop begadang untuk “takbiran” yang saya yakin, begadang untuk takbiran bahkan sampa tidak tidur untuk takbiran tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan dari rumah saya, terdengar dengan jelas dank eras suara takbir dari mushola dekat rumah yang menggunakan microphone adzan untuk takbiran. Bahkan sampai lewat dari jam 12 malam. Kita itu aneh ya, yang tidak ada contohnya dilakuin, tapi yang ada contohnya seperti begadang untuk I’tikaf agar mendapatkan malam lalatul qodar malah tidak dilakukan. Padahal kan kita sering dengar khotib berkhutbah tentang sabda nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang bunynya “Man ‘amila amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa roddun”?
Siapa yang melarang takbiran? Saya maksud disni begadangnya untuk takbiran itu yang tidak dicontohkan. Bahkan sampai mengganggu orang lain untuk istirahat dengan menggunakan microphone adzan yang sangat keras untuk takbiran sampai lewat tengah malam. Apa ridho Rasulullah kalau ihat seperti itu?

Nah paginya gimana hayo? Banyak yang ngantuk kan? Ada yang kesiangan bangun, sampai tdak sempat berjamaah shlat subuh, ada juga yang ketika sholat ‘id ngantuk karena kurang tidur semalam.
Ayolah, kapan kita mau berubah? Masih mau kayak gini terus? Sampai kapan? Yakin umur masih pajang?

Oh iya, saya mau cerita sedikt tentang sholat ‘id tadi pagi. Seperti 1 Syawwal beberapa tahun terakhir ini, saya sholat di Goro Assalam. Ya, memang agak jauh dari rumah saya. Saya berangkat bersama adik saya sekitar pukul enam lebihh sepuluh menit. Ternyata sampai sanna sekitar hamppir tiga per empat shaf yang ada penuh dengan jamaah. Wah, sepertinya saya agak terlmbat ini. Setelah menemukan shaf yang masih longgar, yang saya plih sengaja agar bias nyaman melihat sang khotib berrkhutbah, tidak jauh dari mimbar, danhampir berhadapan dengan mimbar sambil berpikir kira-kira siapa yang akan menjadi imam dan khotin kali ini. Sudah 1 x absen ustadz Abdullah manaf “absen” tahun kemarin yang digantiikan oleh Ust Muhammad Ilyas yang sering ketika si kelas berkata “ngek” hehe. Oh iya, ada yang kelewatan, dari rumah kami menuju Goro Assalam menempu sekitar 5 sampai 10 menit menggunakan sepeda motor. Nah yang saya tahu, yang sangat dianjurkan untuk mengumandangkan “takbiran” sesuai sunnah adalah ketika kita berangkat dari rumah menuju tempat sholat Id sampai kita duduk menunggu sholat Id dilaksanakan. Yang realitanya, banyak umat muslimiin yang tidak melaksanakannya. Tidak tahu mungkin??

Sang “MC” mengabarkan bahwa yang menjadi Khatib dan Imam pada Sholat Id kali ini adahlah Ust Abdullah Manaf Amin. Lalu sholat segera dimulai. Di rekaat pertama Sang imam membaca surat Al-Jumuah dan di rekaat keduanya membaca Al Munafiqun. Seperti dua tahun yang lalu sang ustad jugga membaca Surat Al Munafiqun pada salah satu rekaat sholat Id. Dan ketika membaca ayat yang mengenai Harta, anak-anak yang membuat lalai, nada belau berubah seperti mau menangis.
Selesai salam secara langsung beliau mengingatkan dengan tetap menggunakan mic kepada jamaah untuk jangan meninggalkan tempat sebelum khutbah selesai. Karena sholat Idul fitri itu adalahh iabadah yang satu rangkaian dengan khutbah.

Di awal khutbah beliau menerangkan tentang pentingnya sholat. Di bulan ramadhan kita sudh biasa menjalankan sholat malam, dan sejatinya seorag muslim juga harusnya teta menjaga sholat malam di luar bula Ramadan, 30 menit atau satu jam sebelum shubuh. Itu merupakan “rekreasinya” seorang muslim. Bukannya pergi rekreasi ke Tawang Mangu, atau ke Pantai atau ke tempat lain.

Sang suami bangun duluuan membangunkan istrinya untuk sholat malam. Begitu juga ketika sang istri bangun duluan untuk membangukan sang suami sholat malam. Berharap agar nanti menjadi suami istri di akhirat kelak. Bukan seperti Nabi Luth dan Nabi Nuh ‘Alaihimasalam yang istrinya diazab oleh Allah.

Lalu bila stelah sholat malam dilaksanakan, ketika adan sudah selesai berkumandang kita dianjurkan untuk menjalankan sholat sunnah sebelum sholat shubuh yang kata Rasulullaah “Ro’atani qobla fajri ahabbu layya mina addunya wa maa fiihaa”. Jika dimisalkan Allah memberrikan Nabi Muhammad seluruh dunia tapi Allah melarangnya untuk sholat 2 rekaat sebelum fajar atau Allah mempersilakan nabi Muhammad sholat 2 rekaat sebelum shubuh tapi tidak memberinya apa-pa kecuali rezeki yang teah ditetapkan maka Rasul akan memilih pilihan yang kedua. Karena keutamaannya yang ebih baik dari dunia dan seisinya.

Selanjutnya kita melanjutkan sholat shuhuh. Bila kita bayangkan sholat sunnah saja pahalanya sebanyak itu bgiamana sholat wajibnya? Karena pada dasarnya tidak ada pahala sunnah yang melebihi amalan wajib

Lalu beliau menerangkan pentingnya sholat Berjamaah lima waktu di masjid bagi setiiap muslim. Karena Abdullah bin Ummi Maktum yang buta saja, yang jauh dari masjid rumahnya ketika mendengar adan diminta Rasulullah untuk mendatanginya agar sholat berjamaah di masjid, lantas bagaimana kita yang diberi oleh Allah pengihatan yang ssehat? Bagaimana kita pertanggun jawabkan kelak di akhirat? Untuk apa pnglihatan ini kita gunakan selama di dunia?

“Man dhoyya’aha fali amrin siwaahaa adhya’” barang siiapa yang menyepelakannya (sholat), maka terhaddap urusan lainnya akann lebih menyyepelakan. Menyepelekan diisini bias bermaksud, bisa dikerjakan awal waktu tapi dikerjakan di akhir, bisa dikerjakan berjamaah tapi dikerjakan sendirian, begitu seterusnya. Pejabat yng menyepelekan shalat, maka akan lebih menepelekan urusan dengan rakyatnya. Begitu juga sebaliknya dengan rakyat, begitu pula dosen, mahaswa, guru, murid, dan lain-lain.

Betapa banyak pejabat “blusukan’ di perumahan kumuh, di pasar, di orong-lorong jembatan, padahal hakikatnya yang paling utama tempat ‘blusukan’ harusnya masjid. Karena disna tidak tempat berbagai elemen masyarakat berkumpul Tidak pandang bulu, siapa yang berangkat awal maka dia berhak menempat shof awal. Di dalamnya bertemu majikan dan buruh, pejabat dan rakyta, murrid dan guru, dosen dan mahasiswa, dan masyarakat umum.

Di akhir khutbah sebelum doa, Ustad sempat menyinggung maslah aliran sesat yang berkembang di Indonesia. Sekitar puluh tahun silam di Indonesia digegerkan dengan kristenisasi, lalu komunis, lalu JIL, lalu ahmadiyh, lalu inkarussunnah lalu yang terakhir yang lebihh bahaya yang paling berkembang pesat adalah syiah. Mereka yang lebih kejam dan yahudi dan nasrani (erkataan ibnu Taimiyah) telah erkembang pesaat diberbagai belahan dunia. Dan setidaknya memunyai 3 negara. Iran, Irak dan Suriah. Jangan sampai nanti Lbann dan Yaman dikuasai. Begitu juga di Indonsia, terkhusus di Jawa, di Solo dan di *****. Deg, saya berpikir setelah kata tersebut diucapkan khotib,. Kaalau pak Manaf aja sudah berkata seperti itu berarti memang benar sudah keterlaluan dah keliatan.
Semoga dengan niat tulis ke masjid, endahulukan Allah daripada kerjaan, tugas dan hal lainnya, dengan itu Allah akan menghindarkan dari aliranaliran sesat tadi.

Oh iya, ada hal penting lain yang terlupa. Beliau juga mencontohkan betapa bnayk kaum muslim yang ketika ada walimahan sholat jamaahnya tidak dilaksanakan tepat waktu. Ada masjid yang tidak didirikan sholat dzuhur berjamaah dan dalam keadaan terkunci kaerena ditinggal juru kunci, makmum dan imamnya menghadiri walimahan yang ketika jam 12 belum selesai bahkan sampai jam satu atau lbih. Alangkah bagusnya kita mendahulukan kewajiban kita untuk sholat wajib sementara walimah adalah sunnah. Kalau bisa walimahan dibuat sepagi mungkin agar satu jam atau settengah jam sebelum dzuhur sudah benar-benar selesai. Sunnahnya dapat begitu juga dengan wajibnya. Aplagi di bulan Syawwal ini yang banyak diselenggarakan walimahan, beliau memperingatkan.
Akhirnya ditutup dengan doa, beliau sepertinya juga menyyisipkan doa yang ada di qunut nazilah.

Ketika di akhir, beliau mengataan agar para jamaah saling bersalaman dan mengucakan “Taqabbalallahu Minna wa Minkum” bukan Minal Faizin wal Faizin, Karena perkataan Minal Aidin wal Faizin tidak ada contoh dan tuntunannya.



                                                                                                                   Kartasura, 2 Syawwal 1993

                                                                                                                                                Khubaib

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Berbagi Pengalaman dan Ilmu
Maira Gall