Kamis, 05 November 2015

Gadgetku Melalaikanku

Tampak tenang di dalam kamar asrama suatu kampus, beberapa mahasiswa sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Tanpa bicara. Tenang bukan karena belajar, tapi sibuk dengan benda elektronik yang dibawanya. Sebagian membawa HP, sebagian lainnya tablet. Ada yang sibuk mengomentari status facebook teman mayanya. Juga ada yang mengirim chat kepada temannya lewat BBM. Salah seorang sibuk memainkan gamenya, satunya asyik memilih-milih file mp3 yang ingin didengarkan. 

Begitulah nampaknya potret sebagian besar dari kita. Rasanya menjadi sesuatu barang yang wajib sebuah Handphone atau gadget yang lain. Tapi sadarkah kita, dengan waktu yang kita gunakan bersama “mainan” kita ini? Bermanfaatkah atau justru bisa menjadi musibah bagi kita?

Tidak sedikit yang mempunyai handphone canggih tapi justru waktunya dihabiskan untuk hal-hal yang kurang atau bahkan tidak bermanfaat dengan gadgetnya. Ada yang sibuk dengan game di handphonenya hingga lalai dengan tugas-tugas kampus. Atau ada yang sibuk berchatting ria walaupun ketika sedang banyak teman disekitarnya, yang justru menjauhkan orang yang nyatanya berada di dekatny dan mendekatkan orang yang jauh.
Contoh saja kita, berapa kalikah kita terlambat shalat berjamaah karena handphone? Menjadi masbuq gara-gara Facebook, atau terlambat bangun karena malamnya begadang untuk mendownload aplikasi terbaru?

Padahal kita tahu keutamaan sholat fardhu secara berjamaah di masjid bagi seorang laki-laki muslim. Salah satu keutamaan sholat berjammah di masjid disebutkan pada hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلاَةُ الْجَمَاعَة أفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih afdhal daripada shalat sendirian sebanyak 27 kali lipat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ada juga keutamaan makmum yang bertakbiratul ihram bersama imam. Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

"Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan." (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).
Lalu, seberapa sering kita membuka Facebook daripada membaca HolyBook (Al-Quran)? Padahal kita tahu membaca 1 huruf dari Al-Quran sudah mendapat pahala.

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Dengan gadget kita yang canggih, semakin bertambahkah ketaqwaan kita kepada Allah atau justru malah semakin jauh adi ketaatan?

Kita makan dengan tangan kanan kita, sementara tangan kita tetap masih memegang handphone, kita duduk-duduk bersama teman-teman kita, tapi justru kita sibuk chatting dengan teman nan jauh disana. Sedang berbicara dengan orang tua kita, yang wajib kita hormati, masih saja hadphone berada di genggaman kita, sembari mendengarkan perkataan orang tua, sesekali mata melihat ke layar handphone dan jari-jari tangan memencet tuts di handphone kita. Ketika sedang mengendara motorpun sebagian dari kita masih sempat-sempatnya membalas sms. Sampai anak-anak pun kehilangan kasih sayang dari beberapa orang tua yang mementingkan handphonenya. Berbahaya kan kalau udah seperti contoh-contoh ini? Wal ‘iyaadzu billaah.

Sudah seharusnya bagi kita mendahulukan kewajiban dan tugas kita dibandingkan melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat atau justru malah tidak bermanfaat. Kita optimalkan gadget kita untuk hal-hal yang bermanfaat, yang bisa menambah ketaqwaan kepada kita. Misal dengan memasang alarm untuk bangun tidur persiapan sholat shubuh, atau mendownload aplikasi-aplikasi seperti jadwal sholat, dzikir pagi dan sore, Al-Quran dan lain sebagainya.

Tentu nasihat ini bukan hanya untuk pembaca, tapi juga untuk penulis. Semoga kita tidak terlena dengan gadget kita sehingga kita bisa menjalankan dan mendahulukan kewajiban, tanggung jawab dan tugas kita.

Tulisan ini pernah dimuat di situs qolam.net

Mulailah Menulis!

Menulis. Bagi sebagian orang, mungkin menganggap menulis hanya menjadi aktivitas formal seperti di sekolah, kampus atau kantor. Tapi sebagian orang, menulis menjadi aktivitas non-formal yang sangat menyenangkan. Sarana mengekspresikan suasana hati dan mencurahkan ide dan gagasan. Juga pelampiasan emosi jiwa yang meledak-ledak. Sebenarnya, saya mempunyai keinginan untuk mahir dalam menulis. Bahkan saya mempunyai cita-cita menjadi penulis dan menulis buku-buku. Tapi sayang, seakan hanya pengakuan belaka. Hari-hari terlewat tanpa ada tulisan, bahkan keinginan atau target menulis.
Alhamdulillah. Akhirnya saya mendapatkan semangat mengejar cita-cita itu lagi. Saya harus memulai walau dengan hal yang kecil. Saya harus menyempatkan waktu untuk menulis. Harus. Semangat itu datang kembali setelah saya membaca salah satu koran nasional yang menjadi langganan di asrama tempat saya tinggal. Saya membaca bagian fokus publik yang memuat tanggapan dan komentar pembaca tentang suatu tema yang berkaitan dengan peristiwa atau permasalahan, yang dimuat setiap hari Jumat. Setiap pekan, tema yang akan dikomentari selalu berganti. Biasanya tema merujuk pada peristiwa yang lagi trend, yang menjadi headline. Setelah membaca beberapa pekan bagian rubrik tersebut, saya dapati beberapa pembaca yang berkomentar sama dengan pekan yang lalu. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis tanggapan dan komentar saya. Waktu itu tema yang disediakan adalah Tragedi Musibah Mina. Ada banyak cara sebetulnya mengirimkan komentar dan tanggapan kita, baik dikirim lewat email, atau melalui sosial media. Saya lebih memilih mengirim lewat email.
Hari jumat pun tiba, foto dan tulisan saya terpampang di baris pertama rubrik Fokus Publik tersebut. Alhamdulillah. Akhirnya seakan saya ketagian untuk mengirim komentar ke redaksi koran tersebut. Sudah tiga kali saya mengirim komentar dan tiga kali juga dimuat. Dan akhirnya saya mencoba menulis tentang rubrik lain di koran tersebut, yakni Pembaca Menulis. Rubrik ini lebih umum, dan tanpa tema. Jadi kita bebas menulis. Diterbitkan setiap Ahad. Dan Alhamdulillah kembali lagi tulisanku dimuat di baris pertama. Kala itu saya menulis tentang Kalender Hijriyah.
Harapan dan semangat menjadi penulis itu sedikit demi sedikit mulai berkobar. Saya mau jadi penulis! Teriak batinku. Tak hanya pengakuan tapi juga harus memulai. Mulai dari sekarang, dari yang kita bisa kerjakan dengan target. Dunia menunggu ide, gagasan dan pemikiran kita yang tertuang melalui tulisan kita. Ayo menulis!



Tulisan ini di live-tweet oleh akun twitter @leutikaprio dalam  #Ceritaku Rabu, 28 Oktober 2015
© Berbagi Pengalaman dan Ilmu
Maira Gall