Malam ini setidaknya ada dua
golongan dari kaum muslimin dalam menyikapi 1 Syawwal. Saya tidak membicarakan
tentang takbiran keliling atau hal yang lain tentang malam idul fitri, tapi
saya justru akan mengingatkan diri saya dan antum semua tentang hal yang
terpenting, yang harus kita pikirkan sebagai seorang yang mengaku sebagai muslim.
Malam ini, saya menelepon seorang
teman untuk suatu keperluan. Setelah selesai saya merasa ada yang aneh dari
suaranya. Tidak seperti biasa. Suaranya lemah, seperti tidak punya niat untuk
berbicara. Atau capek mengurus kegiatan di malam Idul Fitri ini? Atau ada hal
lain yang membuatnya bersedih atau nggak mood?
Saya lalu mengirim pesan singkat
tentang perihal kejadian barusan. Jawabnya : “Ditinggal Ramadan”. Masyaa Allaah,
banyak dari kaum muslim yang merasa senang riang gembira menyambut Idul Fitri,
yang mana telah berhasil berpuasa penuh seama satu bulan. Juga kesenangan karena
bisa bertemu sanak saudara. Juga senang dengan hal-hal lainnya.
Lain halnya dengan golongan kedua
dari kaum muslim. Mereka merasa sedih ditinggal Ramadan. Merasa banyak waktu yang
terbuang sia-sia di Bulan ramadhan. Merasa telah ditinggal bulan yang
didalamnya penuh dengan kemuliaan. Merasa tidak yakin akan menjumpai Ramadhan
di tahun berikutnya. Merasa menyesal sekali kenapa tidak memaksimalkan waktu di
bulan Ramadhan yang telah lewat untuk beramal ibadah semaksimal den seoptimal
mungkin. Dan sangat takut bila amalnya selama bulan Ramadhan tidak diterima.
Berdoa agar amal yang sedikit yang telah dilakukan selama ini diterima oleh
Allah. Dan berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.
Penulis masih merasa menjadi
golongan yang pertama, baru teringat barusan bahwa seharusnya kita menjadi
golongan yang kedua. Berapa banyak orang yang merasa dirinya pasti diterima
oleh Allah amal ibadahnya padahal sesungguhnya dia hanya mendapat lapar dan
dahaga ketika berpuasa.?
Kartasura, 1 Syawwal 1436 Hijryah
Tidak ada komentar
Posting Komentar