Judul : Bulan Nararya
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Penyunting Bahasa : Mastris Radyamas
Tahun Terbit : 2014 (cetakan pertama)
Tebal : 256 halaman
ISBN : 978-602-1614-33-4
Harga Buku : Rp 46.000,00
Ukuran : 13 cm x 19 cm
Nararya, atau yang kerap dipanggil Rara. Adalah seorang terapis di
sebuah klinik mental health center yang berlokasi di Surabaya. Nararya ingin
sekali agar metode penyembuhan klien (pasien) menggunakan transpersonal. Suatu
aliran metode baru yang lebih berbau budaya dan filosofi, mencoba mendekati
setiap penderita dengan apa yang mereka butuhkan. (hal 231)
Menurutnya, bergantung dengan farmakologi, dengan cara memberikan
klien obat antipsikotik bukanlah satu-satunya obat bagi penderita skizophrenia.
(hal 7)
Nararya mempunyai teman klien yang spesial baginya. Sania, Pak
Bulan dan Yudhis. Ketiganya selalu dikunjungi Nararya apabila masalah sedang
mendatanginya. Dan Nararya mendapatkan kebahagiaan dari ketiga orang yang
menjadi kliennya tersebut. (hal 17)
Berbagai masalah mulai menghadapi Nararya. Mulai dari hubungannya
dengan kepala klinik, Bu Sausan yang menolak ide penerapan transpersonal yang
diusulkan Nararya, meminta Nararya untuk pindah ke bagian lain dan tidak lagi
di bagian terapis. Lalu halusinasinya yang melihat genangan darah dan cabikan
bunga mawar di depan ruang kerjanya yang ternyata merupakan realitas. Ditambah masalah
perasaan dengan Angga, mantan suaminya yang ternyata dekat dengan sahabatnya
sesama terapis, Moza. Sampai akhirnya Angga menikahi Moza dan Moza hamil. Sampai
masalah antara klien dan orang-orang terdekatnya, seperti Yudhis dengan Diana,
istrinya, serta keluarganya. Juga datangnya Pak Robin yang mau mengambil
anaknya, Sania. Juga Sania yang mencoba untuk bunuh diri. Semuanya seakan
menguras tenaga dan pikiran Nararya.
Hadirnya Papa dan Mama Nararya, juga Farida, teman sesama terapis
yang awal perkenalannya di Palu saat Nararya dan Bu Sausan mengadakan kunjungan
ke seuah Panti Wreda, menjadi spirit tersendiri baginya untuk menyelesaikan
berbagai tugas dan masalah yang berat. Hingga akhirnya, satu persatu masalah
sudah diselesaikan dan ditemukan jalan keluarnya dengan dibantu warga penghuni mental
health center yang berlokasi di pinggiran kota Surabaya ini.
Sinta Yudisia, penulis novel Bulan Nararya ini, bercerita dengan
detail tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengidap skizophrenia. Tak salah bila
latar belakang pendidikan penulis adalah Psikologi. Dengan seluk beluk
permasalahan di health mental center sampai hal-hal yang berkaitan dengan contoh
pasien pengidap skizophrenia diungkapkan di sini. Tapi sayang, penjelasan kosa
kata asing berada di halaman paling belakang novel ini. Akan lebih baiknya,
penjelasan kata asing berada di catatan kaki, sehingga memudahkan pembaca tanpa
harus membalik-balik halaman paling belakang.
Pembaca akan diajak bagaimana menyelami kehidupan di dalam health
mental center, bersama orang-orang yang menderita skizophrenia. Hubungan antara
pasien, hubungan antar terapis atau karyawan, sampai hubungan terapis dengan
klien dan orang-orang sekitarnya diceritakan disini.
Bukan hanya hubungan tapi juga permasalahan yang terjadi di
dalamnya. Bagaimana mencari solusi penyelesaian, sampai cara pendekatan dengan
pengidap skizophrenia diuraikan dengan baik melalui alur ceritanya yang
mengalir.
Bila dilihat secara fisik, sampul depan novel yang mempunyai 256 halaman
ini, bergambarkan seorang anak yang sedang memandangi bulan. Bulan yang
berekspresi sedih. Awalnya saya tidak menyangka isi yang terkandung di novel
jauh dari kesan pertama saya melihat gambar sampul depannya. Kesan pertama saya
menebak novel ini berhubungan dengan dunia anak dan dongeng, tapi tenyata
justru berbau nonfiksi.
Judul bab di novel ini hanya di tampilkan di daftar isi, sementara
di awal perbab hanya dituliskan sepenggal alur yang menjadi tema setiap bab,
itupun hanya beberapa bab saja. Awalnya membuat saya sedikit bingung, karena
harus membuka halaman daftar isi lagi ketika ingin mengetahui judul perbab
novel ini.
Novel ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Pembaca akan
menangkap maksud penulis yang ingin menyampaikan pesan-pesannya. Salah satunya,
bahwa dalam penyembuhan pasien yang mengidap skizophrenia, tidak hanya tugas
terapis. Tapi semua unsur harus mensuport dan membantu jalannya penyembuhan, mulai
dari yang terdekat, keluarga, orang tua serta lingkungan dan masyarakat. Karena
sedikit dekali orang yang memberi perhatian kepada penderita skizophrenia ini.
Lingkungan dan masyarakat biasanya menjauhi, bahkan tidak suka dengan penderita
gangguan mental ini. Padahal itu tidak bisa dibenarkan.
Pesan lain yang terkandung misalnya, melalui perkataan Farida
kepada Nararya, penulis ingin menyampaikan, bahwa dalam menghadapi permasalahan
yang berujung kesedihan, kita seharusnya jangan menghindar. Justru dengan
menghadapinya, merasakan sakitnya, lambat laun kita akan mempunyai imunitas
dalam diri kita ketika menghadapi masalah. Sehingga kita dapat belajar dan
menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih baik di kemudian hari.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel Indiva
2015