Republika online menuliskan di halaman websitenya pada
tanggal 2 Oktober 2015 dengan judul Tiga Babak Tragis Pembantaian Salim
Kancil tentang kronologi kejadian yang terjadi. Bermula dengan
penggerebekan dan pengeroyokan disertai pemukulan Salim Kancil oleh para preman
tambang di depan rumahnya, dilanjutkan penyiksaan di Balai Desa, sampai akhirnya
dibunuh di hutan.
Sampai sekarang sudah banyak digelar aksi solidaritas para
warga yang prihatin dengan kejadian ini. Mereka yang menggelar aksi
solidaritas, membawa poster yang bertuliskan ‘Di tanah kami, nyawa tak semahal
tambang. Salim kancil dibunuh’. Poster ini juga banyak menyebar di berbagai
media sosial.
Boleh jadi kasus Salim Kancil ini merupakan satu dari sekian
banyak kasus serupa, yang mungkin tidak diekspos oleh media. Menjadi PR bagi
penegak hukum dan pihak yang berwenang untuk segera menindak pihak yang
bersalah dengan segera.
Kita berdoa semoga Allah mengampuni dosa Salim dan menerima
amal ibadahnya. Dan kita juga berharap agar Pemerintah harusnya mulai membuka
mata setelah kasus ini, agar lebih mementingkan kesejahteraan dan kepentingan masyarakat
daripada mengiyakan ‘agen kapitalisme’ yang hanya mengeruk kekayaan dan
keuntungan demi kepentingan pribadi.
Fani Wardhana, Ma’had Umar bin Al
Khattab Surabaya
Tidak ada komentar
Posting Komentar