Rabu, 14 Oktober 2015

Jangan Saling Menyalahkan

Trenyuh. Begitulah perasaan saya setelah membaca kesaksian Sarman Sarifuddin, salah satu jamaah haji yang istrinya wafat pada Tragedi Mina yang dimuat di halaman pertama Republika hari Ahad, tanggal 27 September 2015. Tak lama setelah kejadian yang berlangsung pada saat Dhuha tanggal 10 Dzulhijjah 1436 tersebut, berbagai media informasi baik lokal maupun internasional memberitakan kejadian tersebut. Banyak pihak yang mengucapkan bela sungkawa dan turut berdoa agar jamaah yang wafat dalam kejadian tersebut diterima sebagai seorang yang syahid. Tapi tak sedikit pula yang mengkambinghitamkan, menyalahkan pihak Saudi terhadap kejadian yang memakan korban ratusan ini.

Kita tak bisa menampik akan banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa ini. Dengan begitu harusnya menjadikan kita bisa bersikap bijak. Tidak sembarangan berkomentar dan menyalahkan, tapi yang lebih penting adalah doa kita terhadap para korban yang wafat maupun yang luka-luka. Juga harus selektif dalam menerima informasi dan tidak tergesa-gesa dalam memberikan komentar. Bisa jadi komentar kita tidak memperbaiki suasana, justru malah menjadikan semakin ricuh saja. Tepat sekali apa yang disampaikan Ust. Fahmi Salim pada laman akun Facebook beliau menanggapi hal ini, “Intinya kita jangan saling menyalahkan sebelum ada hasil investigasi Saudi dan negara Islam lainnya.. Semua harus introspeksi diri utk perbaikan pelayanan jamaah haji. Semoga syuhada Mina dimasukkan dalam jannah-Nya.. Amiin”

Fani Wardhana, Ma’had Umar bin Al Khattab Surabaya

Dimuat di koran Republika pada hari Jumat 2 Oktober pada rubrik "Fokus Publik" dengan tema Musibah Tanah Suci

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Berbagi Pengalaman dan Ilmu
Maira Gall